-->
Curahan Hati Seorang Anak Untuk Ayah Tercintanya

Curahan Hati Seorang Anak Untuk Ayah Tercintanya


              Video ini Mengkisahkan tentang Curahan Hati Seorang Anak Untuk Ayahnya

Saat aku sedang bersedih, aku teringat dengan ibuku...
Saat aku sedang senang pun, ibu adalah orang pertama yang selalu kuingat. Sampai suatu saat, aku tersadar bahwa ada seseorang pahlawan di dalam hidupku yang selalu aku nomor duakan selama ini. Dialah sosok bayangan yang setia menemaniku dalam hidup.
Meskipun tak selalu berada di sampingku setiap saat, dia selalu menanyakan bagaimana kondisiku sekarang dan ikut mendoakan aku. Bahkan, dia orang pertama yang panik karena tak tahu harus berbuat apa saat melihatku jatuh sakit. Mungkin di luar, dia terlihat begitu tidak peduli, namun aku tahu, hatinya sangat hangat, sehangat tangannya ketika membelaiku. 
Dialah satu-satunya pelawak paling tidak lucu di dunia ini dan entah kenapa, aku selalu menertawakan leluconnya. Bahkan, hatiku yang tadinya cemas menjadi tenang dan lega setelah bercakap-cakap dengan dia. Meski aku jarang bertemu dengannya karena dia begitu sibuk di siang hari dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga, namun dia tetap ingat denganku. Tak pernah sekalipun dia mengeluhkan apapun padaku. Senyumnya secerah matahari, meskipun ada beban besar di pundaknya.
Dia adalah sosok yang mengajarkanku bagaimana kejamnya realita kehidupan, namun senantiasa menjadi tamengku, bahkan ketika aku sudah beranjak dewasa. Dialah satu-satunya pahlawan yang tak pernah kesiangan. Selalu muncul di saat yang tepat, dengan solusi paling bijak. Bahkan di saat aku memiliki seorang kekasih, dialah orang pertama yang melaksanakan investigasi hubungan kami.
Terkadang, dia begitu menyebalkan, melarangku berbuat banyak hal yang menurutku begitu asyik dan seru. Di dalam lubuk hati aku tersadar, dia selalu khawatir denganku dan selalu mengharapkan yang terbaik. Meskipun aku menolak kenyataan tersebut dan menganggap dia seorang penghalang antara aku dan kesenanganku. Aku tak pernah mendengarkannya.
Namun, dia tak pernah sekalipun menyimpan dendam padaku yang selalu membantah nasihatnya. Justru, di saat aku menyesal tak mendengarkan nasihat darinya, dia tetap menyambutku dan memberikan sandaran pundaknya untukku. Dia sudah memaafkanku, meski aku belum meminta maaf dan masih keras kepala.
Seseorang yang tak pernah mengungkapkan rasa cintanya dengan untaian kata-kata, bahkan seutas kata "aku sayang kamu” pun tak pernah terungkap. Hanya tersenyum simpul dan mendengar cerita tentangku dari ibu. Seseorang yang hanya berdiri di balik tirai dan menyaksikanku bahagia di tengah panggung. Aku seringkali melupakan dia, meskipun dia orang yang memberikan seluruh hatinya hanya untukku. Mungkin, lebih besar daripada ibu.

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment