Abdurahman bin Auf Adalah Donatur Peradaban (Peletak Dasar Pada Pilar Kedermawanan Yang Menginspirasi Anak Zaman)

Abdurahman bin Auf Adalah Donatur Peradaban (Peletak Dasar Pada Pilar Kedermawanan Yang Menginspirasi Anak Zaman)


Semalam , setelah menshare sebuah goresan dari akun pribadi Facebook saya. Salah satu sahabat, ia sudah saya anggap seperti saudara, senior dan orang tua. Meminta saya untuk membuat teks pidato dengan jalan cerita seperti salah satu tulisan yang saya share pada beliau sebelumnya.

Katanya, afwan. Saya belum layak dengan thema kesederhanaan sahabat yang mulia Abu Dzar al- Ghifari. Dan beberapa kali saya paksakan beliau untuk mengambil thema itu sebagai bagian dari item  pidatonya. Dan saya anggap beliau sangat layak dengan thema itu. Beberapa kali ia menolak tawaran saya, ia pun meminta saya kembali membuat thema pidato dengan menyebut nama Sahabat Nabi Abdurahman bin Auf. Karena cerita yang mirip dengan thema sebelumnya.

Tersebutlah Abdurahman bin Auf. Kira- kira menyebut nama ini, apa yang muncul di pikiran kita sekalian tentang sosok beliau?. Kawan - kawan yang pernah membaca jalan cerita dan sejarah hidup dari beliau, pasti punya deskripsi yang ragam tentang sahabat mulia yang ajaib ini. 

Dahulu, Naufhal bin al-Hudzali berkisah, adalah Abdurrahman bin Auf beliau adalah sahabat karib kami, bahwa pada suatu waktu ia mendatangi kami dengan membawa sebuah hidangan berupa roti plus daging segar, dan pada saat bersamaan beliau kelihatan lusuh dan sedih, lantas kami bertanya wahai Abu Muhammad, apa yang menyebabkan kau bersedih? Ia pun menjawab, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan beliau dan keluarganya belum kenyang dengan roti, dan saya belum bisa melihat kebaikan saat kita di akhirkan dalam hidup ini, ucap Abdurahman bin Auf.

Anas bin Malik bercerita bahwa Abdurrahman bin Auf pernah di persaudarakan oleh Nabi Saw. dengan Sa’ad bin Ar-Rabi', saat itu Sa’ad memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sebagai orang  kaya raya. Beliau bahkan pernah menawarkan Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri terkasih dan hartanya. Maksudnya, Abdurrahman di berikan pilihan atas kedua istri Saad, ia siap akan mencereikan salah satunya dan diserahkan kepada Abdurrahman setelah masa ‘iddah wanita yang di pilihnya. Masya Allah, Allahu yubaarik fika yaa Saad.

Sebuah tawaran yang hangat dan cukup menggetarkan dada Abdurahman. Santai brother, (ini kata saya kalau seandainya saya yang mendapatkan tawaran demikian). Abdurahman merespon tawaran  saad tadi dengan  berkata, semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu, cukup tunjukkan kepadaku di manakah pasar?.

Di kala jahiliah memang Abdurahman adalah seorang miliader dan terkenal khalayak, namun ia melepas semua kekayaannya dan hanya mengenakan pakian di badan saat memeluk agama pilihan hatinya yaitu Islam. Setelah mengikrarkan Syahadat dan membenarkan keagungan keyakinan Muhammad dan Risalah yang dibawahnya, Abdurrahman bin Auf justru mengalami ujian keimanan yang berat yang datang padanya dari Quraisy Makkah, partner ia dahulunya, saat ia masih dalam kebahagian yang hampa dan penuh ragu?.

Saat Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin hijrah ke Habasyah (kini Afrika), ia salah satu Sahabat yang turut serta dalam rombongan tersebut, lalu kembali ke Makkah setelah itu berangkat lagi ke Habasyah untuk kedua kalinya. Dan puncaknya,  saat hijrah ke Madinah dalam Gozwatul Badr, Uhud dan beberapa perang bersejarah setelahnya

Beliau sangat masyhur sebagai pengusaha yang tajir dan sukses, ia bahkan kadang merasa heran dengan dirinya dan konon pernah berucap, “Aku heran terhadap diriku sendiri, seandainya aku mengangkat batu, di bawahnya aku akan temukan emas dan perak.”

Padahal, apa yang ia lakukan bukan pamer dan untuk gagah - gagahan atau menumpuk harta apalagi ingin menghamburkannya. Baginya dagang adalah profesi terbaik dan mulia, washilah (sarana) kesuksesan, kemulian dan untuk kejayaan sejarah bagi perjuangan dakwahnya.

Dalam beberapa literatur, Abdurrahman bin Auf  telah memberikan sebagian dari hartanya untuk perjuangan dan pembangunan Peradaban dan juga untuk kejayaan agama dan ummat. 

sebagian besar kekayaan yang di hibahkan adalah dari hasil bisnis yang ia tekuni. Masya Allah, ia memang pantas dan layak di jamin surga, sebagaimana yang di sebutkan Rasulullah bahwa Ia salah satu diantara sepuluh sahabat mulia Nabi yang di jamin surga itu.

Dalam Riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah bersabda: "Abu Bakar di surga, Umar di surga, Usman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa'ad di surga, Sa'id di surga, Abu Ubaidah bin Jarrah di surga."

Berkata Ja'far bin Burqan, “ Telah sampai kabar kepadaku bahwa Abdurrahmân bin Auf telah memerdekakan 3000 orang. Yang mulia Imam al Bukhâri juga menyebutkan dalam kitab tarikhnya bahwa Abdurrahmân pernah memberikan wasiat kepada semua Sahabat yang mengikuti dalam pertempuran gozwul badar dengan 400 dinar, sedang jumlah mereka yang ikut dalam perang badar lebih dari 100 orang?.

Abu Muhammad, (sebutan untuk Abdurahman bin Auf) adalah pribadi merdeka dan paripurna, saat dalam pertempuran, ia begitu bersemangat seperti singa menerkam mangsanya, saat beribadah, ia begitu syahdu seakan bercengkerama dengan pemilik hatinya yakni Allahu tabaraka wa ta'alaa, dan ketika berdagang ia serius seakan ia hidup sepanjang masa. Inilah yang kemudian menjadi diantara sebab berkembang pesat bisnis yang di jalankan oleh beliau.

Di kisahkan suata saat di kota Madinah, debu tebal terlihat mendekat dan membumbung ke atas langit bumi. Semakin tebal hingga menutupi angkasa. Angin juga bertiup ke arah Madinah menyebabkan gumpalan debu kuning itu semakin mendekat dan terdengar menderu oleh warga kota. Mengira ada badai gurun yang sedang menyapu dan menerbangkan pasir di kota saat itu, mereka segera sadar bahwa dari balik gumpalan debu dan hiruk-pikuk itu adalah iring-iringan kafilah besar dan sangat panjang. Allahu Akbar!!!

Benar, bahwa beberapa saat kemudian terdapat 700 unta penuh muatan memenuhi jalan-jalan dalam kota Madinah. Masyarakat saling mengabarkan untuk menyaksikan keriuhan dan bergembira bahwa akan datang rezeki yang banyak, berkah dan berlimpah, Insya Allah

Geger penghuni kota saat itu, lantas Aisyah Ummul Mukminin bertanya, Apa gerangan sesungguhnya? Aisyah mendapati informasi bahwa kafilah dagang Abdurrahnan bin Auf akan datang dari Syam. Aisyah bertanya kembali, apakah bisa satu kafilah membuat riuh dan ramai demikian?, orang di sekitarnya mengiyakan pertanyaan dari Ummul Mukminin tersebut. Dan bahkan pada kafilah Abdurahman itu terdapat 700 unta dengan muatan dagangnya. Emejing.

Ketakjuban Aisyah itu pun kemudian langsung mengingatkan ia kembali pada petuah sang suami kekasih dan pujaan hatinya Muhammad Saw., (saya sampai terbawa pada dendang lagu Aisyah yang sedang Viral kini) , tentang Abdurrahman bin Auf, bahwa "Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak"!!!. Masya Allah. 

Abdurahman bin Auf tentu juga sudah mendengar berulang kali tentang petuah nabi yang di sampaikan oleh Aisyah tadi. Dan sungguh semua kafilah dengan muatannya ini akan saya persembahkan demi perjuangan dakwah hanya untuk Allah ucap Abdurahman pada Aisyah dan khalayak. Dan benar, muatan dari 700 unta pilihan itu benar - benar ia habiskan kepada semua masyarakat kota Madinah dan warga sekitarnya. Sungguh sebuah sayembara menarik yang di perlihatkan oleh Abdurahman bin Auf.

Inilah sosok Abdurrahman Abu Muhammad, yang tidak pendek akal, hidup penuh dengan misi sosial dan kemandirian, hampir saja semua kewajiban terhadap agamanya segera ia tunaikan. Begitu sukses dalam berjuang dengan dakwahnya yang penuh dengan gelora cinta dan penuh kasih. Juga keikhlasan dan kemuliaan niat yang telah menjadi watak dari perjuangannya. Sahaja dan kedermawanannya yang mengharu biru dan membuat decak kagum bagi kawan dan mungkin pada rival bisnis dan partner dari perniagaannya.

Peristiwa dan beberapa kisah dahsyat ini hanyalah bagian kecil dari jalan pendek cerita seorang Abdurrahman bin Auf. Saudagar kaya - raya yang telah menerima hidayah dan kebenaran langit. Tercerahkan atasnya keagungan kalam ilahi dan pesan cinta sang Rasul, Ia begitu paham atas orientasi dan tujuan dari hidupnya. Bin Auf gapai kekayaan dan kehormatan dunia hanya untuk kehidupan yang abadi kelak di yaumil hisab dan untuk ketenangan penantian dalam kuburnya. 

Abdurahman bin Auf telah mewaqafkan hartanya baik secara sembunyi maupun terang - terangan untuk memotivasi sahabat dan ummat setelahnya. Juga untuk para perintis jalan juang dakwah dan untuk menegakkan fitrah dan kebenaran Risalah menuju kebangkitan dunia dan untuk kedamaian semesta. 

Dan bagi saya, sungguh Abdurahman bin Auf adalah donatur paling top saat awal hijrah untuk dakwah dan untuk titah suci yang syarat akan Inspirasi!.

Abdurahman bin Auf Adalah Donatur Peradaban, beliau adalah peletak dasar pada pilar - pilar Kedermawanan yang menginspirasi anak zaman.

Created by. ust. Abdullah Sartono

- Pegiat Rumah Produktif Indonesia 
- Pengelola PTQ Shohwatul Islam Sulawesi Barat
- Peksos & Fasilitator SLRT Kemensos RI






Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment

VIRAL