Virus Corona [Covid19] & Kuliah Kesederhanaan Oleh.Ust. Abdullah Sartono

Virus Corona [Covid19] & Kuliah Kesederhanaan Oleh.Ust. Abdullah Sartono



Virus Corona atau atau bahasa elitnya Covid - 19 memaksa kita untuk tunduk sementara, kembali sedikit merenung bahwa ternyata kita sangat tak berdaya sama sekali di hadapan makar dan kuasa Ilahi Rabbi. Corona mengajak kita kembali untuk menyimak pesan - pesan cinta sekaligus peringatanNya yang datang melalui dalil - dalil naqli maupun aqli.

Sungguh Corona mengembalikan kesadaran untuk percaya pada janji Rab dan menemukan jati diri kita sebagai makhluk ciptaanNya  yang lemah, tak berdaya walau melawan makhluk yang tak tampak oleh mata telanjang kita. 

Virus itu, kini memaksa para pemangku jabatan dan kuasa untuk mempertimbangkan kembali arah kebijakan yang konon untuk memberikan kesejahteraan untuk rakyatnya, sebagaimana yang kita saksikan ramai media memberitakannya atau janji- janji manis manis politikus.

Corona sepertinya memaksa para pemimpin besar di seluruh penjuru negeri untuk bisa mengurangi dan membatasi konferensi atau pertemuan akbarnya, karena di khawatirkan dapat mempercepat laju rantai penyebaran Covid 19?

Memaksa kita semua harus berserah diri dan berdoa memohon perlindungan hanya pada Tuhan. Konon dari beberapa media yang sempat lintas saya baca, mereka yang tidak percaya dengan Tuhannya, kini ramai bermunajat mohon bantuan dan pertolongan dari penguasa kerajaan langit dan bumi itu. 

Kekacauan hidup manusia saat ini mirip dengan suasana ketakutan ketika Perang Dunia I atau wabah virus flu Spanyol pada 1918 ketika akal manusia sudah tak berdaya lagi menghadapi ganasnya virus yang merajalela tersebut.

Mungkinkah baru sadar?. Kita sebenarnya sekumpulan makhluk lemah tak berdaya jika tanpa bantuan dan kekuasaan-Nya. Toh kita sebenarnya tak dapat mengandalkan logika biasa atau pun kecanggihan kecerdasan teknologi manusia tanpa pertolongan dan bantuan Allah Swt.

Sebelumnya kita telah menghayal juga membayangkan di tahun 2020 masyarakatnya sudah harus serba modern, segala sesuatu yang terkait dengan kebutuhan yang terkoneksi dengan IPTEK harusnya serba waooh dan mewah bahkan.

Namun sayangnya kita kembali di minta untuk belajar cuci tangan dan cara bersuci yang benar. Bahkan kita sepertinya lebih merasa istimewa ketika bisa menikmati suasana kehidupan seperti hidup di zaman batu, ya hidup serba alami dengan memanfaatkan apa adanya dari alam bebas

Bahkan, saya cukup mencurigai, jangan - jangan masyarakat yang paham dengan budaya - budaya luhur nenek moyangnya yang melepaskan ketergantungan mereka dengan IPTEK itu hidupnya lebih istimewa, saya jadi ingat masyarakat yang hidup di lingkungan Ammatoa Kajang Hitam yang terletak di Desa Tanah Toa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, mereka menikmati betul serba apa adanya dari alam dan menghindari kerumunan manusia, dan mereka fine saja. 

Terkait poit kesederhanaan, seorang dosen tamu pernah bercerita perbedaan pandangan bagaimana menjadi pribadi sederhana. Satu peserta perkuliahan mengatakan, sederhana itu seperti Muhammad Saw., yang hidup dengan tidak begitu mementingkan duniawi. Bila tiba harta di tangannya, tak sampai esok semua harta itu telah habis dibagikan pada sahabatnya 

Peserta perkuliahan yang satu lagi mengatakan, Nabi itu makannya kurma terbaik, minumnya susu kambing, konsumsinya daging kambing terbaik, pakaiannya pun wangi dan kendaraannya pun paling gagah.

Perbedaan sudut panang tentang sederhana itu pun terus berlangsung dan tidak ditemukan titik temu tentang bagaimana sebenarnya menjadi pribadi yang sederhana.

Namun, oleh Buya Hamka dalam bukunya Falsafah Hidup, kata beliau orang yang sederhana adalah mereka yang tidak terlalu condong, tidak juga terlalu rebah. Maksudnya tidak berlebihan apalagi perperilaku berlebihan dan tabdzir (menghamburkan harta) 

Kesederhanaan Abu Dzar Algifari.

Kita belajar dari sahabat nabi Abu dzar al-ghifari misalnya, Ia di kenal sebagai Sang pelopor hidup sederhana sekaligus orang yang Istiqomah yang pernah dimiliki oleh umat sejak masa Muhammad dan sahabatnya. Nabi pernah berkata, “Tak akan pernah lagi dijumpai di bawah langit, ini orang yang lebih benar ucapannya dari Abu dzar."

Memang ia sangat pantas dijadikan idola dalam pola kesederhanaan. Hidupnya di waqafkan untuk kekayaan peradaban, sekalipun ia harus menderita padahal kesempatan untuk hidup mewah dan bermegah-megahan sangat terbuka baginya.

Abu Dzar ketika masa Khalifah Usman bin Affan mendatangi pusat kekuasaan dan kekayaan untuk menemui para pembesar dan mengingatkan mereka akan firman Allah ( Qs- at-taubah: 34-35), yaitu tentang orang-orang yang menumpuk harta dan tidak membelanjakannya di jalan Allah. 

Perjalanan Abu Dzar ini ternyata terdengar oleh masyarakat dan memintanya untuk berpidato. Beliau di mana pun berada, selalu menyampaikan ayat di atas, di antara yang menjadi sasaran nasehat utama beliau adalah kekuasaan dan gudang raksasa kekayaan masyarakat Syiria yang di pimpin Gubernur Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Muawiyah yang mulai merasa gerah dengan pidato Abu Dzar, ia pernah melayangkan surat kepada Utsman Bin Affan yang isinya menyebutkan, Abu dzar telah merusak orang-orang Syiria dan Utsman pun menjawab surat itu dan meminta Abu dzar untuk segera kembali ke Madinah, Abu dzar pun kemudian menemui Utsman bin Affan.

Dengan kelembutannya, Utsman bin Affan memberi tawaran kepada Abu Dzar untuk tinggal di dekat istananya di Madinah. Begini kata Utsman, Wahai Abu Dzar Tinggallah di sini, disampingku, di sini akan di sediakan unta bagimu yang gemuk, yang akan mengantarkan susu setiap pagi dan sore.

Apa sikap Abu Dzar? Ia menolak semua fasilitas yang di tawarkan karena ia sadar bahwa semua itu akan membatasi ruang baginya untuk menyampaikan kebenaran dan untuk menjaga muru'ah (kehormatan dan harga dirinya) . Konon, Abu dzar menolak ketika ditawarkan untuk menjadi Gubernur di Irak lho?.

Selamat tinggal bagi kemewahan dan kesenangan kilah Abu Dzar, setelahnya beliau minta untuk tinggal di Rabadzah konon minyak lampu saja sulit untuk didapatkan. Dan tidak kemudian menjadi penghalang baginya untuk tetap melanjutkan risalah dan kerja - kerja Kenabian.

Saat sakaratul maut, di beri kuasa olehNya untuk bercakap dan bertanya pada isterinya mengapa kau menangis?. Isterinya menjawab, "saya menangis karena sehelai kain kafanpun tidak kamu miliki". Dan saat Abdullah bin Mas’ud, salah satu sahabat Rasul menghampiri jasad sahabatnya, ia pun membenarkan perkataan muhammad Saw., tentang kesederhanaan Abu Dzar Algifari yang pernah ia sampaikan dahulu bahwa “Tak akan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu dzar.” 

Kesederhanaan Muhammad Saw. 

Bagaimana dengan kesederhanaan Rasulullah Muhammad Saw.?. Muhammad Saw., pemimpin penuh penuh inspirasi, meski beliau dikenal sebagai seorang pedagang yang sukses, namun ia senantiasa hidup dengan sederhana, contoh kesederhanaannya ia rela tidur di atas pelepah kurma hatta badannya memberi bekas atasnya. 

Muhammad Saw., hidup sederhana bukan karena beliau miskin, Ia bisa saja hidup dengan mewah kalau mau, karena beliau mampu memberi kambing sebanyak satu bukit kepada seorang pemimpin suku yang masuk Islam, yakni yang mulia Malik bin Auf.

Kesederhanaannya dapat memaksimalkan harta yang beliau miliki untuk kesejahteraan rakyat yang di pimpin juga untuk kepentingan perjuangan dan untuk menunaikan risalah yang ada pada pundaknya, tidak cukup goresan untuk kemudian memberikan komentar padanya dan untuk kita belajar dari sikap qonaah Rasul yang mulia ini. Allahuma Sholli 'alaa Muhammad. 

Bagaimanakah dengan fakta masyarakat dunia hedonisme?

Masyarakat yang kapitalisme memahami bahwa kebahagiaan sesungguhnya selalu diukur pada banyaknya materi yang mereka miliki. Bahkan sebagian kalangan masyarakat seolah berpikir bahwa hidup belumlah menjadi paripurna apabila belum memiliki rumah mewah, kendaraan dan berbagai fasilitas yang fantastis dan segala kebanggaan lainnya. 

Hidupnya sudah sangat layak, ia selalu merasa belum cukup dari apa yang di milikinya. Memang kesederhanaan sepertinya bukan lagi impian atau sudah tidak lagi dianggap ideal bagi orang yang haus dengan kebanggaan dunia.

Hura-hura dan konsumtif  sepertinya telah menjadi satu budaya bahkan sudah sangat mengakar dalam kehidupan orang - orang berdasi dan masyarakat yang tidak tercerahkan dengan prinsip - kesederhanaan.

Memang harus di maklumi, perilaku hidup sederhana sangat bertentangan dengan pola hidup konsumerisme. Dalam pola hidup konsumerisme, kebahagiaan individu hanya bisa dicapai dengan cara mengkonsumsi, memiliki dan membeli apapun yang diinginkan meski hal itu melebihi batas kemampuan dasar yang dimiliki.

Covid 19, terlepas dari beragam perspektif bahwa apakah ia bagian dari by designt atau by acciden. Sebagian orang berpandangan ia adalah bagian dari propaganda dan alat perang dagang yang di mainkan oleh Rusia dan China untuk merusak tatanan dunia dan untuk membuat dunia baru. Atau ia adalah tentara dan atau ayat dari sisi Tuhan untuk di jadikan seperti pelajaran dan nasehat untuk penghuni bumi yang sudah jauh dari fitrah kemanusiaannya dan telah merusak bumi. 

Sebagai orang awwam saya berlepas diri dari semua perspektif yang bisa memberi kesimpulan - kesimpulan yang tidak bisa saya pertanggungjawabkan. Namun apa salahnya bisa kita ambil sedikit pelajaran dan hikmah dari persoalan Covid 19  ini.

Saya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi apapun jalan ceritanya adalah pasti ada pelajaran berharga, yang oleh orang beriman patut menjadikannya ia sebuah maddah dan i'tibar untuk mereka kembali menata pola hidup yang lebih sesederhana mungkin.

Saya sedang memimpikan suatu saat kelak semua orang bisa menghargai harta sebagai hadiah istimewa untuknya dan sekaligus nikmat sebagai sarana untuk mamantapkan pengabdian kepadaNya, bukan menjadikan harta dan kemegahan dunia sebagai Tuhan untuk di sembah

Saya juga sedang membayangkan kelak orang tidak lagi menghamburkan hartanya dalam acara tasyakuran dan pesta pora mereka. Baik pesta rakyat kelas bawah, pesta pora kelas elit dan konglomerat,  pesta pora para pejabat dan politikus. 

Politikus dan penguasa semestinya dengan segala kewenangan dan kekuasaan yang ada padanya, bisa menjadikan semua kekayaan negara yang di kelola untuk kemaslahatan bangsa dan untuk kesejahteraan penghuni bumi ini.

===============> Pengelola  PTQ Shohwatul islam Sulawesi Barat <=================




Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment

VIRAL